Jarwa dhosok dalam bahasa Jawa

Advertisement


Bahasa Jawa Tengah khususnya memang kaya akan kosa kata yang unik, dan jika dinalar rasanya saya sendiri yang terlahir sebagai anak orang Jawa masih sulit memahami. Bagaimana para leluhur menemukan bahasa tersebut, sedangkan pada jaman itu belum ada teknologi komputer seperti sekarang yang sanggup mengerjakan sekaligus merumuskan berbagai data dengan cepat dan tepat.

Tetapi menurut saya pribadi, nenek moyang masyarakat Jawa menggunakan "ilmu titen", yaitu ilmu menandai. Maksudnya, misalnya saja seperti merumuskan perwatakan seorang anak yang lahir hari pasaran Selasa Kliwon. Mereka melakukan penelitian kepada terhadap anak yang lahir pada hari pasaran tersebut. Menurut para sesepuh, pujangga keraton melakukan penelitian ini selama puluhan tahun dan akhirnya ditulis pada sebuah buku primbon.

He he... jika dibahas secara detail mungkin semalaman tidak bakalan selesai. Pada artikel ini saya hanya akan membahas tetang "jarwa dhosok". Mungkin lain-lain yang akan membacanya ya? Jika ditulis dengan ejaan bahasa yang benar adalah "jarwa dhasak". Tetapi karena pada umumnya orang Jawa awam menuliskannya dengan huruf o maka agar lebih enak dibaca saya tuliskan pakai o saja. Apa arti dari kata tersebut? Sebenarnya saya kesulitan untuk menjelaskan ini, tetapi akan saya coba dengan menyertakan contoh kata, untuk memperjelas.

Jarwa dhosok bisa diartikan kepanjangan dari suatu singkatan, tetapi bukan sekedar singkatan biasa. Singkatan tersebut lebih menunjukkan pada kenyataan atau logika keadaan sesuatu. Misalnya saja "kodok", maka jarwa dhasak nya "teka-teka ndhodhok". Yang artinya datang-datang duduk. Coba anda baynagkan seekor kodok yang melompat lalu berada di depan anda, duduk bukan?

Dari contoh di atas, mungkin anda bisa memberikan definisi sendiri tentang jarwa dhosok. Jika mungkin masih belum nyangkut, coba perhatikan kosakata yang lain di bawah ini:
- Kerikil = keri neng sikil, artinya: sebuah kerikil jika diinjak geli di kaki.
- Gedhang = digeget yen bar madhang, artinya: pisang digigit sehabis makan.
- Kupluk = kaku tur nyempluk, artinya: peci itu berbentuk kaku dan buncit.
- Kuping = kaku tur njepiping, artinya peci itu kaku dan njepiping dalam bahasa Indonesia apa ya, susah he hee...
- Sopir = yen ngaso mampir, artinya: seorang sopir jika istirahat mampir.

Masih banyak lagi jarwa dhosok lainnya, jika disebutkan semua bisa-bisa nggak muat. Tetapi, dari artikel ini saya bisa menyimpulkan bahwa bahasa Jawa khususnya Jawa Tengah kaya akan kosakata bahasa yang unik dan terdengar aneh. Andai saja jaman dahulu sudah ada komputer mungkin semuanya bisa tercatat semua  kosakata dan ilmu Jawa lainnya yang patut kita lestarikan.